Kupatan (Hari Raya Ketupat), merupakan tradisi warisan ulama nusantara yang tetap terjaga hingga saat ini, menjadi penanda selesainya puasa Syawal. Tradisi ini meliputi pembuatan ketupat, opor, dan lauk-pauk untuk dibagikan atau dimakan bersama sebagai simbol ngaku lepat (mengakui kesalahan), mempererat silaturahmi, serta rasa syukur setelah puasa sunah Syawal.
Masjid Jami’ Rohmat Ismail mengadakan kupatan secara rutin setiap tahun pada hari ke tujuh di bulan Syawal, dilaksanakan bakda sholat Subuh berjamaah. Kegiatan pada pagi ini dipandu oleh ustadz Kasnu, diawali dengan pembacaan Maulid Nabi oleh grup Banjari, dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah oleh ustadz Gus Arif Rachman Rosyadi, Lc., M.Pd. Kegiatan ditutup dengan pembacaan doa oleh bapak Modin Mulyadi Rohman, dan diakhiri ramah-tamah menikmati ketupat, lontong dan sayur.
Pada kesempatan ini pesan mauidhoh hasanah antara lain: Pertama, bahwa hari raya idul fitri bukanlah sekedar dari barunya pakaian tetapi barunya ketakwaan sebagaimana diungkapkan sebuah syair:
لَيْسَ العِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الجَدِيْد، وَلَكِنَّ العِيْدُ لِمَنْ تَقْوَاهُ تَزِيْد “Hari raya Idul Fitri bukan bagi orang-orang yang mengenakan baju baru, tetapi bagi orang-orang yang takwanya bertambah.” Kedua, tetap istiqomah di bulan-bulan setelah Ramadhan berlalu sebagaimana dawuh Sayid Ahmad bin Muhammad bin Alwi al-Maliki: “Janganlah engkau menjadi hamba ramadhan, jadilah hamba Allah, maka lanjutkanlah (kebaikan) yang telah kau mulai di bulan ramadhan.” Ketiga, selalu bersyukur dalam kondisi apapun dan bagaimanapun. Dan selametan yang dilakukan umat Islam –termasuk juga kupatan ini– adalah bentuk dari bersyukur kepada Allah Ta’ala atas segala kenikmatan yang telah diberikan, dan sekaligus wadah syiar serta silaturahim dengan sesama (kupat: ngaku lepat) yang perlu dilestarikan.
Semoga kawah candradimuka yang bernama Ramadhan ini dapat menjadikan ketakwaan kita bertambah dan mampu menjaga keistiqomahan di bulan-bulan berikutnya. Aamiin.